• Harta Kita yang Sebenarnya

  • New Masyarakat.net
  • Harta Kita yang Sebenarnya

    Dr Aswar Hasan (aras)

    Aswar Hasan 

    يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي. قَالَ: وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟ )Riwayat Muslim) Terjemahannya:
    “Manusia berkata: Hartaku… hartaku! Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Wahai anak Adam, adakah harta milikmu kecuali apa yang kamu makan hingga habis, apa yang kamu pakai hingga rusak, atau apa yang kamu sedekahkan sehingga tersisa (menjadi pahala di akhirat).

    Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya yang telah disepakati sebagai kumpulan hadis autentik oleh mayoritas ulama. Dengan demikian berstatus shahih,

    Hadis ini mengingatkan bahwa harta yang sebenarnya milik kita  hanyalah yang telah kita manfaatkan berupa, apa yang telah kita makan hingga habis, serta harta yang digunakan untuk kebutuhan fisik, seperti pakaian hingga rusak serta harta yang kita digunakan untuk melindungi diri selama hidup di dunia. Adapun sedekah yang dikeluarkan itulah yang menjadi harta kita sebagai bekal di akhirat kelak.

    Sementara itu, harta yang tidak termasuk dalam ketiga kategori ini akan dinikmati atau menjadi milik orang lain setelah kita wafat, dan hanya amal sedekah yang tersimpan sebagai pahala yang kekal. Karena itulah yang menyertai kita kelak.

    Hanya saja manusia banyak yang kerap terperdaya oleh bayangan harta tersebut. Mereka berkata, “Hartaku… hartaku…” seakan-akan segala yang dikumpulkan selama hidup di dunia ini adalah milik sejati mereka yang abadi.


  • Baca Juga :

  • Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita dalam sabdanya yang penuh hikmah bahwa; "Hakekat hartamu, wahai manusia, hanyalah apa yang kamu makan hingga habis, apa yang kamu kenakan hingga usang, dan apa yang kamu sedekahkan sehingga tersisa di sisi Allah."
    Betapa manusia sering terjebak dalam kesibukan dunia, menghitung, menimbun, dan menjaga harta yang sejatinya bukan milik dia. Mereka lupa, bahwa apa yang mereka makan hanya menjadi tenaga sesaat, pakaian yang mereka banggakan akan lusuh dan hilang pesonanya, sementara itu, harta yang tidak mereka manfaatkan, akan menjadi beban tanggung jawab kelak di akhirat.

    Namun, ada harta yang kekal, harta yang tidak sirna oleh waktu adalah sedekah kita. Apa pun yang kita berikan untuk kebaikan, meski tampak kecil di mata manusia, menjadi besar di sisi Allah. Ia kelak menjadi cahaya, menjadi penyelamat, menjadi saksi atas amal baik yang kita tinggalkan.

    Maka dari itu, wahai jiwa yang sering lupa, sadarlah. Bahwa harta yang sesungguhnya bukan apa yang kita simpan, melainkan apa yang kita gunakan untuk kebaikan. Olehnya itu, investasikan hartamu untuk akhiratmu kelak, karena di sanalah kehidupan yang abadi menantimu. Jangan biarkan waktumu berlalu tanpa meninggalkan jejak amal yang berarti sebagai bekal abadimu kelak.

    Ingatlah bahwa harta sejati kita adalah apa yang kita bawa menuju akhirat. Maka berlomba- lombalah dan bersegeralah bersedekah mempersiapkan bekal menuju akhirat sebagai kehidupan yang sesungguhnya. Wallahu a’lam bisawwabe.





  • Update Info Covid 19 Nasional dan Internasional Disini:

  • Tag :

  • Komentar :

  • Share :



Baca Lainnya



Kalau Sudah Berihram, Bukalah Topengmu

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Naik Haji? Perbaiki Niat

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Awas KUHP dan KUHAP Baru Mulai Berlaku Hari Ini

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Belajar dari Cacing

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Tobat Ekologis: Amanah Menjaga Bumi

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Bangkitlah

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Awal Baik, Kunci Kesuksesan

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Penghujung Waktu

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Boleh Marah, Meludah Jangan

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0