• Penghujung Waktu

  • New Masyarakat.net
  • Penghujung  Waktu

    Ashar Tamanggong (bak)

     Ashar Tamanggong

    Kita sering bilang, “Wah, waktu cepat sekali berlalu.”
    Padahal yang cepat itu bukan waktunya, tapi kita—cepat menunda, cepat lupa, dan cepat merasa masih lama.

    Di penghujung waktu begini, kalender sudah hampir habis, tapi dosa masih cicilannya panjang. Target dunia banyak yang tercapai, target akhirat masih status “insya Allah”. Ironisnya, kita rajin menutup tahun, tapi jarang menutup pintu maksiat.

    Lucunya, kalau jam dinding mati, kita cepat ganti baterai.
    Tapi kalau hati mati, kita bilang: “Nanti saja taubafnya, belum waktunya.”
    Seolah-olah kita punya kontrak eksklusif dengan malaikat maut: “Tunggu dulu, saya belum siap.”
    Penghujung waktu ini mestinya bukan cuma soal resolusi, tapi evaluasi.

    Bukan cuma menghitung umur, tapi mengukur manfaat.
    Karena umur itu bukan soal panjangnya, tapi seberapa banyak kebaikan yang sempat kita titipkan.
    Kata orang, hidup ini seperti senja.
    Masalahnya, banyak yang merasa masih pagi, padahal matahari sudah miring.
    Masih sibuk menambah beban, lupa menyiapkan bekal.
    Di penghujung waktu, mari jujur pada diri sendiri.

    Kalau Allah menutup cerita kita hari ini, apakah ini ending yang layak dibaca malaikat dengan senyum, atau dengan istighfar?

    Semoga sisa waktu yang sedikit ini cukup—
    cukup untuk memperbaiki niat,
    cukup untuk melunasi janji pada Tuhan
    dan cukup untuk pulang dalam keadaan tidak membawa terlalu banyak penyesalan.


  • Baca Juga :

  • Karena sejatinya, yang paling menakutkan bukan “waktu habis”, tetapi waktu yang habis tanpa makna.

    Di penghujung waktu ini, Allah sudah mengingatkan dengan sangat jujur:
    “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
    (QS. Al-‘Ashr: 1–2)
    Bukan karena kurang harta,
    bukan karena kurang gelar, tapi karena waktu dipakai tanpa iman, tanpa amal, dan tanpa saling mengingatkan.
    Rugi versi langit, bukan versi dunia.

    Lalu Nabi ﷺ menutup peringatan itu dengan kalimat yang sederhana, tapi menampar halus:
    “Ada dua nikmat yang sering dilalaikan  manusia: kesehatan dan waktu luang.”
    (HR. Bukhari)

    Kesehatan masih ada, tapi dipakai menunda. Waktu luang masih banyak, tapi dihabiskan pada hal-hal tak penting.
    Giliran sakit datang, baru sadar: “Oh, ternyata waktu itu mahal.”
    Maka di sisa waktu ini, jangan tunggu sempurna untuk taat.
    Karena yang ditunggu sempurna itu, seringnya tidak pernah datang.
    Tapi maut—datangnya selalu tepat waktu.

    Semoga ketika waktu kita benar-benar sampai di ujung,
    kita tidak sibuk berkata “seandainya”,
    melainkan cukup berbisik: “Alhamdulillah, aku sudah berusaha.”

    Makassar 31 Des 2025





  • Update Info Covid 19 Nasional dan Internasional Disini:

  • Tag :

  • Komentar :

  • Share :



Baca Lainnya



Boleh Marah, Meludah Jangan

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Tujuh Pesan Memasuki Tahun 2026

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Dari Buku, Telur Bebek dan Santri Literasi

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Negara Tanpa Ayah : Catatan Pengasuhan Keluarga 2025

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0


Liburan Akhir Tahun

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0

Perginya, Tokoh LPM Kota Makassar, Haji Sampara Chank

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0


Spirit Tembok Cina dari Qin Shi Huang ke Prabowo Subianto:

favorite_border 0
chat_bubble_outline 0