-
Semoga Kita Tak Jadi "Setan Bisu"
-
New Masyarakat.net
-

Aswar Hasan (aras)
Dr Aswar Hasan
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah melahirkan istilah "setan bisu" yang digunakan untuk menggambarkan orang yang tidak menyampaikan kebenaran atau diam terhadap kemungkaran.
Beliau menyatakan bahwa; “Agama dan kebaikan apalagi yang ada pada seseorang yang melihat larangan-larangan Allah dilanggar, batas-batas-Nya diabaikan, agama-Nya ditinggalkan, dan sunnah Rasul-Nya dibenci. Lantas orang itu hatinya tetap dingin, lisannya diam (dari menyampaikan kebenaran dan mengingkari kemungkaran), dia adalah Syaithon Akhros (setan bisu dari jenis manusia), sebagaimana orang yang berbicara dengan kebatilan dinamakan Syaithon Naathiq (setan yang berbicara dari jenis manusia)."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa diamnya seseorang terhadap pelanggaran agama sama halnya dengan bentuk kejahatan yang setara dengan berbicara kebatilan. Istilah "setan bisu" beliau sebutkan juga dalam kitabnya Ad-Da' wa Ad-Dawa'.
Kata beliau: "Orang yang diam membisu sehingga tidak menyampaikan kebenaran, bila ia tidak sedang dalam kondisi takut akan keselamatan dirinya, maka ia adalah setan bisu dan pelaku maksiat kepada Allah, riya’ lagi penjilat. Sedangkan orang yang berbicara dengan kebatilan maka ia adalah setan yang berbicara, dan pelaku maksiat kepada Allah."
Pernyataan tersebut menekankan bahwa seseorang yang mampu menyampaikan kebenaran tapi memilih diam tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat agama, dianggap sebagai pelaku maksiat itu sendiri dan disamakan dengan setan bisu.
-
Baca Juga :
-
Kita tidak dapat membayangkan sekiranya yang mengatakan itu adalah Rasulullah SAW. Istilah "setan bisu" bukan berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW, melainkan merupakan ungkapan dari para ulama untuk menggambarkan betapa berbahayanya sikap diam itu, terhadap kebenaran.
Oleh karena itu, seorang aktivis dakwah tidak boleh diam terhadap kebatilan jika ia memiliki ilmu, kemampuan, dan kesempatan untuk menegakkan kebenaran. Hal ini sejalan dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar, yang merupakan salah satu pilar dalam dakwah Islam dimana Al-Qur'an menyatakan;
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110).
Sementara itu, dalam hadis Nabi disebutkan bahwa; "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim).
Untuk itu, seorang aktivis dakwah memiliki tanggung jawab moral dan agama untuk: Menyeru kepada kebaikan (ma’ruf) dengan hikmah dan kelembutan. Mencegah kebatilan (munkar) sesuai kemampuan dan konteks sosialnya dan tidak takut celaan dalam membela kebenaran karena niatnya lurus semata karena Allah. Tegakkan dan katakan kebenaran dan keadilan itu, sekalipun nyawa taruhannya. Wallahu a’lam bisawwabe.
-
Update Info Covid 19 Nasional dan Internasional Disini:
-
Tag :
-
Komentar :
-
Share :